Kalian harus baca link-link di bawah ini. Sangat miris. Tapi aku yakin kita bisa bangkit dari keterpurukan ini. Salah satu cara mengatasinya adalah dengan menjadikan membaca buku sebagai sebuah kebutuhan. Berikut aku sertakan kutipan dari artikel-artikelnya. Siapa tahu kamu makin tertarik! Selamat Membaca. Happy Reading Everyone!
Pertama, bacalah dengan nama Rabb-mu yang telah menciptakan. Itu artinya, aktivitas membaca harus dapat mendekatkan diri kepada Allah. Bukan sebaliknya, membuat Allah murka atau membaca sesuatu yang justru menjauhkan diri kepada Allah. Itu artinya, kualitas yang dibaca menjadi penting dalam Islam.
Membaca bukan sekedar hobi tapi merupakan kebutuhan mendasar dan prioritas. Karenanya, Rasulullah membebaskan para tawanan perang, jika mereka mau mengajarkan umat Islam membaca dan menulis. Ini merupakan bukti betapa pentingnya membaca dalam pandangan teologi Islam.
Kedua, kegiatan membaca yang kemudian melahirkan wawasan, pemikiran, gagasan, penemuan, pengetahuan, dan ilmu yang didapati oleh kita tidak boleh menjadikan kita sombong, angkuh dan bahkan melahirkan kemudaratan bagi orang lain akibat ilmu kita. Makanya dalam Islam, ilmu tidak bebas nilai, tapi ia harus bersandar pada keimanan (teologis) dan syariat Islam. Karena itu tidak boleh melahirkan kerusakan bagi orang lain.
( https://duniaperpustakaan.com/kemunduran-umat-islam-karena-umatnya-malas-membaca/ )
Arkian, jalan kaum Muslim (era kekinian) menuju pengetahuan terintangi oleh dogma, sikap apologetis, kemalasan, dan kebodohan yang sebenarnya tidaklah rumit. Namun kebanyakan, jalan kaum Muslim itu terintangi oleh sikap acuh tak acuh yang nyaris sempurna terhadap nilai akal dan peran yang dimainkannya dalam mencari ilmu pengetahuan. Kaum Muslim dewasa ini lebih suka membangun gedung-gedung ketimbang pikiran. Padahal, di zaman sekarang ini, siapa saja yang menguasai arus informasi, berarti menguasai wacana.
( https://duniaperpustakaan.com/sejarah-peradaban-buku-umat-islam-dan-kemerosotannya/ )
Dari paparan di atas, kita bisa mengetahu bahwa ada tiga hal mendasar di balik produktivitas ulama dalam bidang tulisan:
Pertama, keikhlasan
Mereka menulis dalam rangka investasi akhirat, bukan mencari sekadar dunia atau sanjungan umat.
Kedua, mereka sangat pandai dalam manajemen waktu.
Ketiga, adanya apresiasi dan kontribusi negara.
Bila ketiga hal tersebut saling bersinergi, maka produktivitas ulama dalam bidang tulisan akan kembali bangkit.
( https://duniaperpustakaan.com/rahasia-produktivitas-ulama-dalam-bidang-buku-tulisan-dan-ilmu-pengetahuan-pada-masa-kejayaan-islam/ )
