Pernahkah
kalian mengalami perasaan itu dalam satu hari yang sama? Aku rasa kalian pasti
pernah merasakannya. Ntah kenapa, perasaan khawatir yang tiba-tiba muncul
ketika sedang bahagia itu selalu muncul. Kekhawatiran bahwa kebahagiaan yang
aku rasakan pasti akan memiliki rasa sakit pada akhirnya. Mungkin itu hanyal
sugesti saja, yang mendekam terlalu dalam di alam bawah sadarku, seperti alarm
kebakaran yang menjadi pertanda bagi siapapun yang mendengarnya. Sama seperti
alarm yang selalu berbunyi dan mengingatkan ku untuk tidak pernah terlalu
bahagia atas sesuatu hal, karena kebahagiaan yang berlebihan pada akhirnya
hanya akan memberi luka. Mungkin kalian merasa aneh saat membaca artikel ini,
karena isinya seperti menumpahkan kegundahan hati yang begitu menyesakkan. Yang
kurang lebih memang seperti itu adanya. Selalu ada sedikit kekhawatiran yang
justru menjadi pengingat bahwa Tuhan memberitahu kita untuk bahagia secukupnya
saja, namun selalu bersyukur sebanyak-banyaknya.
Siang
itu ntah kenapa hatiku dilanda perasaan yang aku pun tak bisa
mendeskripsikannya. Perasaan senang ketika kamu bisa sebentar saja berbicara
dengan orang yang akhir-akhir ini selalu bisa menemanimu. Membuatmu tak
henti-hentinya tersenyum bahkan ketika panas matahari sangat menyiksa saat itu.
Menyukainya? Mungkin itu kata yang terlalu cepat untuk disimpulkan. Mungkin aku
hanya merasa nyaman ketika aku berada di dekatnya, ketika aku bisa dengan
leluasa berkeluh kesah tentang hal-hal yang terjadi disekitarku. Mungkin
perasaan nyaman itu pula yang membuatku senang sekali ketika bertemu dengannya
walaupun hanya dalam hitungan menit saja. Rasa nyaman itu pula yang dapat
membuatmu salah tingkah ketika kamu harus berhadapan dengannya di depan umum.
Sesuatu hal yang sangat jarang terjadi pada orang cuek sepertiku. Perasaan
nyaman itu juga yang membuatku menata diri lebih lama daripada biasanya.
Sesuatu yang jarang sekali aku lakukan. Pertemuan singkat yang dapat membuat
hariku serasa lebih baik dibanding hari-hari sebelumnya.
Namun,
ternyata Tuhan selalu menyayangiku, Tuhan selalu mengingatkanku akan
kebahagiaan semu yang kapan saja bisa Tuhan ambil dariku. Sorenya ketika aku
bersama salah satu teman baikku yang lain, yang ntah kenapa sejak pertama kali
aku melihatnya getaran-getaran aneh selalu muncul tiba-tiba ntah darimana dan
semakin besar dari hari ke hari. Ketika rasa senang itu masih sedikit membekas
dalam ingatan, cerita-cerita dari lelaki penyebab getaran itu memberikan luka
yang sedikit menyiksa hati kecil dan rapuh ini. Hanya dengan satu cerita, satu
objek saja, luka itu bisa memberikan rasa sakit hingga meneteskan air mata.
Sesuatu yang sangat berharga dan harusnya hanya jatuh disaat-saat terpenting
saja. Rasa itu sungguh memberikan efek yang buruk pada diriku sore itu, aku tak
bisa merasakan semilir-semilir angin yang selalu aku rasakan dengan senang dan
bahagia, aku tak bisa memandang takjub semburat-semburat keemasan yang
bertebaran di langit, pertanda malam akan tiba, seperti hari-hari sebelumnya.
Rasa kecewa itu mengingatkanku untuk selalu bersyukur pada Tuhan, yang selalu
mengingatkan ku pentingnya bersyukur dan memandang semua hal secukupnya, tanpa
euforia berlebihan yang hanya akan meninggalkan luka lebih dalam lagi.
Antara
perasaan senang dan perasaan terluka
Antara
sang Hujan dan sang Angin
Antara
perasaan nyaman dan getaran-getaran
Sungguh
aku berada diantara persimpangan yang tak aku mengerti kemana aku harus
melangkah, menuju nyamannya suasana hujan, atau semilir-semilir angin yang
selalu memberikan kesegaran dan semangat baru untukku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar