Kamis, 04 Oktober 2018

Hidup ini untuk Apa? - Hari ke-10 | Tantangan 30 Hari Menulis

Assalamua'alaikum.
Alhamdulillah Allah masih beri kesehatan pada diri kita, semoga waktu yang kita gunakan selalu untuk mencari ridha Allah. 

Pernah nggak sih kamu terbangun di pagi hari, lantas bingung mau ngapain? Nggak ada planning mau ngapain, atau justru planningnya itu seharian nggak ngapa-ngapain? Alias gelesotan/mager/leyeh-leyeh/malas-malasan. Artinya, itu saatnya kamu buat list daftar kegiatan yang harus kamu lakukan hari ini! 

tapi sebelum kamu buat list harian, kamu wajib dulu mencari tahu untuk apa kamu hidup di dunia!
"Eh? Kok gitu? Ya tujuan hidup aku buat sukses lah", hhhmm nggak salah, tapi apa patokan ke suksesan menurutmu dear?

Seharusnya ketika kita ingin melakukan sesuatu kita harus punya pandangan atau dasar yang kokoh, Nah, sebagai seorang muslim/muslimah, dasar yang kokoh itu adalah akidah dan syariat Islam. Kita wajib tau loh! Masa iya kita mengaku muslimah tapi nggak tahu bahwa dalam pergaulan antar lawan jenis itu dibatasi, nggak boleh ada ikhtilat, apalagi berkhalwat. Atau jangan-jangan kita tutup mata? berdalih dengan pembenaran-pembenaran kita? 

Sebelum kita bicara mengenai adab pergaulan dalam Islam. Yuk cari tahu untuk apa sih kita hidup di dunia ini? sebagian pasti sudah tahu jawabannya ya? 

Yaps, untuk menyembah Allah, hanya Allah. Kemudian apa hanya itu? tentu tidak. Allah menciptakan manusia dengan seperangkat aturan. Artinya selalu ada aturan yang harus kita patuhi dalam setiap aktivitas yang hendak kita lakukan. Menyeluruh ya guys. nggak partial alias sebagian. Artinya kamu nggak boleh pilih-pilih syariat. Karena Islam bukan agama prasmanan, begitu yang pernah aku baca dari tulisan Ustadz Felix Siauw. Sebagaimana yang kita tahu, Islam itu sempurna mengatur semua hal dalam hidup mulai dari bangun tidur sampai tidur, mulai dari individu sampai tingkat negara, dan masih banyak lagi. 

Sayangnya, karena sistem yang ada saat ini, tidak mendukung kita untuk mendapatkan akses mempelajari islam lewat sekolah, pernah nggak sih nyadar, berapa porsi belajar agama Islam di sekolah? Cuma satu kali tatap muka dalam seminggu, udah gitu bahasannya seputar itu-itu terus dari jaman sekolah dasar sampe sekolah menengah atas. Padahal Islam kan nggak cuma itu doang, nggak sekedar ibadah aja, nggak sekedar cuma ngomongin sikap-sikap individu aja, maka wajar jika akhirnya banyak pemuda-pemudi muslim yang jauh dari agamanya. Tapi apa karena hal tersebut menjadi ajang pembelaan diri kita untuk buta dengan agama kita sendiri? Tentunya nggak dong ya! Jangan sampai! Allah sudah memberikan kita akal untuk berpikir, masa nggak mau sih mikir untuk akhirat? 

Maka selagi masih muda, selagi Allah masih memberikan waktu bagi kita, yuk belajar Islam lebih dalam. Yuk sama-sama berjuang, bergegas, mengejar ridha Allah.

Wassalamualaikum

Semarang, 4 Oktober 2018

Rabu, 03 Oktober 2018

Sudut Pandang | Eps. 1


Siapa yang tidak teriris hatinya melihat saudara-saudaranya tertimpa musibah gempa dan tsunami. Saudara-saudara kita di Palu dan Donggala mendapat musibah yang juga menjadi teguran bagi kita semua. Bahwa kuasa Allah tidak bisa diprediksi oleh teknologi secanggih apapun. Melihat foto-foto yang mengisahkan bagaimana korban yang meninggal akibat tsunami ini seharusnya membuat kita semua semakin dekat dengan Allah. Memohon ampunan-Nya. Memohon agar kelak ketika kita meninggal, Allah matikan kita dalam keadaan beriman, seorang muslim, dan khusnul khotimah.

Secara pribadi bencana mengingatkan ku bagaimana gempa yang saat itu terjadi di lombok, dan getarannya sampai ke pulau Bali. Ketika itu aku sedang berada di mushala. Getarannya begitu kencang. Apa yang ada dibenakku saat itu adalah apakah sudah cukup bekalku di akhirat nanti? Sudah cukupkah amalan yang aku lakukan untuk mendapat ridha Allah masuk ke dalam surga-Nya? Masihkah ada waktu untukku memperbaiki diri?

Tulisan ini aku buat sebagai pengingat diri ini, bahwa diri ini tidak pernah tahu kapan ajal akan menjemput. Sudahkah aku memaksimalkan waktu untuk mengejar ridha Allah? Sudahkah aku masuk ke dalam golongan ummat Nabi Muhammad saw? Ya Rabb, Ya Allah, Ya Rahman, tunjukanlah kami selalu jalan-Mu yang lurus.

1 Oktober 2018

Selasa, 04 September 2018

Maunya Instan – Hari ke 9 | Tantangan 30 Hari Menulis


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Ok, aku bakal nyicil hutang tulisan ini. Tapi, sepertinya ini agak melenceng dari niat awal. Tujuan tantangan ini kan agar aku terbiasa menulis tiap hari bukan pada berapa banyak tulisan yang bisa aku hasilkan. So, setiap aku bolong nulisnya, itu artinya 30 hari nya semakin mundur dan mundur. Maksudnya yang awalnya selesai dalam 30 hari, bisa jadi lebih karena ada hari yang terlewat tanpa menulis di blog ini. Ihhh ribet banget sih Al?! Gapapa toh aku ini yang ngejalani hehe

Yaps, balik ke topik awal yaitu “Maunya Instan”.  Nggak bisa dipungkiri lagi dengan akses internet dan teknologi yang berkembang pesat, manusia seolah-olah terus menerus dikejar oleh waktu. Benar-benar dikejar –kejar waktu sampai-sampai mereka lupa caranya bersopan santun, mereka perlahan tapi pasti melupakan budaya ketimuran kita satu ini. Apa-apa maunya cepat, segera selesai, tanpa dia lupa semua hal itu bisa terlaksana dengan proses dan step-stepnya. Maka penting banget bagi kita generasi millenial ini untuk punya skala prioritas aktivitas yang akan kita lakukan jadi ke depannya juga nggak akan saling bertabrakan.

Tapi pernah nggak sih kita sadar kalau gara-gara semua yang serba instan ini kebanyakan orang jadi gampang banget emosi, gampang banget naik darah, dan jadi nggak sabaran. Mereka maunya semua hal itu berjalan sesuai kemauannya. Padahal yaaa nggak bisa gitu juga. Etdah aing ngomong apa sih. Well, target itu perlu tapi tetap harus liat kondisi. Tapi balik lagi nggak boleh gampang putus asa dan malah nyalahin keadaan itu nggak benar juga.

Tekanan kapitalisme kian lama makin kerasa tau nggak. Semua hal sekarang kaitannya sama materi. Kadar kemanusiaan manusiapun semakin menurun. Dan itu budaya sopan santun di kalangan orang seusiaku kian hari kian mengkhawatirkan. Apa sih susahnya kita membuka percakapan dengan perkenalan dan sekedar basa-basi? Apalagi sama orang yang cuma kita kenal di dunia maya. Heran aja gitu sama mereka yang grasah-grusuh buat dapetin sesuatu. Ya pokoknya kita harus terus memelihara sifat kemanusiaan dalam diri kita, jangan sampai raga ini manusia tapi jiwanya robot yang kaku dan nggak mengenal lagi yang namanya sopan santun.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bukan Nggak Sempat hanya Nggak Menyempatkan – Hari ke-8 | Tantangan 30 Hari Menulis



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Wowww, kayaknya ini judul terpanjang di T30HM kali ini. Alhamdulillah akhirnya bisa menyempatkan kembali menulis setelah 10 Hari absen. Masya Allah. Lalai. Fix mah ini lalai, menyepelekan tantangan yang dibuat sendiri, trus nggak sadar kalau udah 10 hari nggak nulis. Artinya aku punya 10 tulisan juga dong yang harus aku selesaikan. Masya Allah, Allahu Akbar!

Oke fokus dengan judul tulisan kali ini, aku akan membahas tentang seberapa sering kita beralasan tidak sempat padahal sejujurnya kita bukan tidak ada waktu, tapi benar-benar tidak menyempatkan waktu untuk melakukan sesuatu. Contoh kecilnya yang real dalam kehidupanku adalah masalah ngisi termos. What? Apa hubungannya Al? Yess, dari semester 2 kalau nggak salah, sampai akhirnya udah semester 5 gini itu baru di semester 5 akhirnya termos yang aku bawa dari rumah itu berfungsi, alias dipake buat nyimpan air panas. Itu pun qadarullah karena kemarin aku sempat kena batuk flu dan nggak enak banget rasanya kalau minumnya bukan air hangat. Otomatis mau nggak mau yang dari jaman baheula nggak pernah menyempatkan akhinya dilakuin juga. See, bukan karena nggak sempat, tapi nggak mau menyempatkan. Ini buat introspeksi diri aja ya, bukan untuk saling judge atau menyalahkan. Sering kali kita atau aku lebih tepatnya memberikan segudang alasan atas hal-hal yang belum dicapai—dalam hal ini sampai ke hal-hal kecil macam termos—karena memang tidak mau menyempatkan diri. Kalau kata Ust Felix yaaa ini jelas banget yaaa godaan syaitan. Mereka membuat kita lalai melupakan kewajiban atau aktivitas-aktivitas hingga saat waktu berlalu yang terasa adalah penyesalan-penyesalan.

Well, sekarang pun aku menyesal karena punya 10 hutang tulisan. Berarti aku harus mencari lebih keras terkait ide-ide tulisan apa saja yang akan aku hadirkan nantinya. Nggak boleh males, nggak boleh bilang ntaran, tapi jangan sampai juga jadi lalai dengan kewajiban lain seperti menghafal al-Qur’an ataupun mengerjakan tugas kuliah. Pokoknya selalu berpikir dan beraksi yaa. Jangan kebanyakan bukan sosmed Al!

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kamis, 30 Agustus 2018

Ada Apa Dengan Korea - Hari ke-7 | Tantangan 30 Hari Menulis


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Whattt, udah berapa hari ini nggak nulis. Nggak yang penting jangan menyerah! Harus bisa tuntasin challenge ini Al!! Bagaimana ini nantang diri sendiri aja kok nggak konsisten!?! Daripada meratapi kesalahan lebih baik berusaha teruss buat jadi lebih baik, let’s move up!!

Hari ini aku bakal nulis tentang.. tentang apa ya enaknya?

Aaaa, candu drama korea aja kali yaa. Seru dan sesuai dengan kondisi saat ini. Dimana nggak muda nggak tua sukaa banget nonton drama korea. Aku salah satunya yang saat ini sedang fokus untuk sembuh dari kegemaran nonton drama korea. Nggak sampe kecanduan yang tiap ada drama baru pasti nonton, tapi kalau tiap minggu yang dinanti-nanti episode baru itu juga udah mengkhawatirkan kan ya? Salah satu cara yang sekarang lagi aku giatin buat nggak nonton-nonton lagi drama korea adalah dengan nonton ceramah terkait korean wave yang dibawain sama ustadz Fuad Naim. Alhamdulillah setelah nonton itu bikin mikiiirrr banget kalau mau nonton lagi.

Pernah ga sih ketika kalian yang lagi nonton drama korea itu mikirin aurat mereka yang diumbar? Walaupun yang biasanya ngumbar aurat itu wanita, dan kita yang nonton juga wanita. Kita tetap punya batasan aurat loh! Sempat beberapa kali terpikir pas lagi nonton drama korea ini, aku salah nggak ya nonton mereka, kan itu harusnya aurat yang nggak boleh dilihat sekalipun sama kita sesama wanita. Daannn kejawab sudah tanya tanyaku itu ketika nonton ceramah ustadz Fuad Naim.

Ustadz Fuad Naim juga membeberkan kenapa sih korea bisa jadi pusat dunia lah saat ini dalam industri hiburan, salah satunya karena dalam 7 masa kepemimpinan mereka selalu menggunakan/mencanangkan program yang sama, jadi mau berapa kali ganti presidennya programnya nggak berubah. Jadi korean wave atau kalau nggak salah artinya demam korea saat ini tuh udah dicanangkan sejak puluhan tahun yang lalu. Trus jugaa ini tuh salah satu balas dendam penjajahan mereka gitu deh. Jadi mereka tuh juga pengen menjajah bangsa lain, aku lupa istilahnya apa, intinya penjajahan modern tapi bukan pakai senjata. Melainkan gaya hidup.

Sadar nggak sih betapa banyak penggemar mereka di seluruh dunia yang rela membeli berbagai macam merchandise idol mereka. Harganya tuh nggak murah loh, biasanya beratus-ratus ribu. Aku sampai heran segitu relanya nabung tapi buat beli begituan. Mereka nggak sadar mereka lagi dijajah :’( Banyak lagi deh, dan ceramah beliau buat aku tuh nggak ngebosen or kaku, karena relate banget dengan aku yang pernah suka drama korea. Pokoknya lengkap!

So guys kalau kalian pengen tahu dari segi Islam sendiri tentang korean wave, tontolah ceramah ini!! Cari aja di youtube dengan keyword Ustadz Fuad Naim, insya Allah langsung ketemu!

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Minggu, 26 Agustus 2018

ADZAN - Hari ke-6 | Tantangan 30 Hari Menulis

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tahu nggak sih berita apa yang lagi hitz akhir-akhir ini? 
*Banyakk tauu yang mana maksudmu al* Netijen menjawb

Ituloh masalah seseorang yang melaporkan suara adzan yang menganggu ituu. Tau kan ya? Semoga readers semua tahu berita ini, miris banget berita dan dampaknya!

Sedikit cerita, selama kurang lebih 17 tahun hidup di Bali, aku tinggal di lingkungan yang jauh dari masjid. Otomatis adzan adalah suara yang jarang sekali aku dengar ketika berada di rumah. Penanda waktu sholat untukku dan keluarga adalah jadwal sholat sepanjang masa yang bapakku gantung di dinding rumah. Alhasil ketika pulang kampung, suara adzan adalah salah satu hal yang aku rindukan sekaligus aku nanti-nantikan. Bagiku saat kecil, adzan adalah tanda bahwa lebaran akan segera tiba. MasyaAllah, alhamdulillah aku bersyukur pernah tinggal di lingkungan minoritas, sehingga aku bisa lebih menikmati dan mengerti arti penting adzan.

Adzan sendiri selain sebagai penanda waktu sholat juga merupakan seruan kepada kaum muslimin untuk meninggalkan segala aktivitasnya untuk bersegera menenuaikan kewajiban dan tujuan hidupnya, sholat, beribadah kepada Allah. Sudah sewajarnya jika adzan dikumandangkan secara keras-keras agar semakin banyak kaum muslim yang mengetahui waktu sholat telah tiba. Coba deh baca kisah Bilal bin Rabbah yang sampai naik ke atas Kabbah agar suaranya bisa terdengar sampai jauh. Atau baca kisah-kisah masjid yang dibangun dengan menara-menara tinggi untuk bisa menyebarkan suara adzan sampai jauh. 

Jadi, miris banget ngeliat banyaknya politikus elit negeri ini yang justru membela orang yang menggugat suara adzan, yang notabene nya mereka itu beragama muslim. Bahkan dari salah satu portal berita online menyebutkan menteri agama memberikan wacana pengaturan volume suara adzan. Astagfirullah, negeri ini mayoritas muslim namun serasa minoritas. Teringat peraturan yang sama yang pernah diterapkan di Bali ketika menjelang nyepi, ada peraturan yang menghimbau suara adzan hanya terdengar di dalam masjid dan tidak boleh terdengar sampai ke luar masjid. Itu di Bali yang mayoritas penduduknya bukan beragama Islam. TAPI KALAU SAMPAI NEGARA juga menerapkan aturan yang demikian, Apakah relevan data yang menyebutkan Indonesia sebagai negara mayoritas MUSLIM TERBESAR di dunia? 

Ya Allah aku berlindung dari penguasa dzalim negeri ini. Ya Rabb, aku merindukan kepemimpinan Islam yang menerapkan aturan Islam dalam menjalankan negeri ini. Yang menjadikan al-Qur'an dan As-Sunnah menjadi pedoman dalam menerapkan seluruh aturannya. 

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Semarang, 26 Agustus 2018


Lalai - Hari Ke-5 | Tantangan 30 Hari Menulis

Lalai, dalam menjalankan amanah
Manusiawi, jika terjadi hanya sesekali
Salah, ketika itu menjadi kebiasaan
Menjadikan amanah menjadi hal yang terlampau sering terbengkalai

Jika menjalankan amanah kau tak sanggup, bagaimana jika Allah hendak menitipkan amanah-amanah yang lebih besar lagi? 
Hal yang besar dimulai dari hal-hal kecil yang terus dilakukan, rutin, konsisten

Katanya muslimah, tapi kau seringkali lupa dengan hadits Rasulullah saw untuk berlomba-lomba dalam kebaikan
Lupa akan hadits yang menyuruh kaum muslim untuk segera menyelesaikan pekerjaan lainnya ketika pekerjaan yang satu telah selesai

Hidup di dunia ini hanya sementara
bahkan para ulama mengatakan hidup di dunia itu hanya seperti pagi sampai dhuha
sangat sebentar, tapi sering kali dunia membuat diri ini lupa akan beribu kata yang pernah dibaca

Ya Allah, lindungi hamba dari godaan syaitan yang terkutuk
Ya Rabb, lindungi hamba dari sikap terlena akan dunia
Ya Rahman, Yang Maha Pengasih, tunjukilah hamba selalu jalan-Mu yang lurus
Aamiin Allahumma Aamiin

#Muhasabahdiri

Semarang, 26 Agustus 2018



Interaksi Sosial - Hari ke-4 | Tantangan 30 Hari Menulis


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah Allah masih memberikanku kesempatan untuk menulis. Hari ini aku akan langsung memposting tulisan, karena kemarin dan kemarinnya bolong, yeah. Harus ada punishment, biar nggak terulang lagi ((HARUS)).

Kali ini mau bahas interaksi sosial. Manusia seperti yang sudah berulang kali kita pelajari, adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Namun dengan karakteristiknya yang berbeda-beda manusia cenderung pada salah satu sisinya saja, padahal sudah menjadi kodratnya bahwa hal ini harus berjalan secara seimbang. Dampaknya tentu pada psikis manusia yang terganggu. Sayangnya kadang kita atau aku pribadi tidak segera menyadari adanya gangguan ini. Sedikit telat untuk mengetahui bahwa aku sudah melenceng dalam hal ini lebih asyik dengan pikiran dan duniaku sendiri sehingga lupa bahwa banyak hal lain yang harus dilakukan dan itu berhubungan dengan orang lain, bantuan dari orang lain, interaksi dengan orang lain.  

Interaksi sosial perlu, dalam hal ini juga membersamai diri bersama orang-orang shalihah (coz I’m Muslimah). Bersama dengan orang-orang shalihah, insya Allah akan membuat diri juga terbawa dampak positif, semangat beribadah akan cenderung lebih stabil ketimbang kita sendirian. Kali ini pendek aja yaa. Masih ada 2 tulisan yang harus diselesaikan nih. Tetap semangat Alyaaa!!

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Semarang, 26 Agustus 2018

Kamis, 23 Agustus 2018

Hukum Buatan Manusia - Hari Ketiga | Tantangan 30 Hari Menulis

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Selamat malam readers. Hari ini aku bakal sedikit berbagi pandangan mengenai hukum buatan manusia. Tulisan ini terinspirasi karena tadi pagi baru saja dapat kuliah mengenai etika bisnis. Tapi aku nggak bakal bahas masalah itu tapi cuma ingin membahas masalah tentang hukum buatan manusia.

Setelah kemarin sedikit bahas mengenai islam sebagai ideologi. Tentunya Allah telah menurunkan segala aturan-Nya untuk manusia, yang pastinya untuk kebaikan umat manusia. termasuk hukum syariat yang diatur dalam islam. Tidak akan pernah kita temukan kekurangan dalam hukum yang bersumber dari al_Qur'an serta hadits. Banyak banget hukum-hukum dalam islam yang kalau kita lihat sekilas itu kejam dan mengerikan, padahal kalau kita mau mempelajari ada banyak sekali kebaikan yang Allah turunkan ketika hukuman yang Dia turunkan kita terapkan. Salah satu yang paling sering diperbincangkan adalah hukum qishas atau potong tangan. Well, sebelum ngaji aku  berpikir hukuman qishas itu adalah hukuman yang menyeramkan. Salahnya aku juga nggak mencari tahu lebih lanjut ditambah lingkungan saat itu yang tidak mendukung. Kemudian setelah mengaji, ustadzah menjelaskan apa tujuan qishas dan manfaatnya bagi umat. Dari beliau aku tahu, hukuman qishas bisa dilakukan dengan persyaratan-persyaratan tertentu. Misal pencuri, ketika ia mencuri melebihi batas yang ditentukan, maka ia akan mendapatkan hukuman qishas. So, kalau ia mencuri sesuatu yang kecil atau dibawah dari batas yang ditentukan hukumannya bukan qishas, bisa penjara atau hukuman lainnya, intinya hukuman itu akan sepadan dengan perbuatannya. Hukum qishas ini selain untuk membuat jera pelakunya, juga untuk mencegah kejadian mencuri ini terulang kembali. Rasa malu akan muncul ketika pelaku berada di masyarakat, sekaligus masyarakat yang melihat akan berpikir ribuan kali lipat untuk melakukan tindakan yang sama dengan yang dilakukan pelaku. Hukum qishas juga mengurangi dosa pelaku. Kita sebagai umat muslim tentu tahu bahwa setiap hal yang kita lakukan memiliki konsekuensi yang akan kita pertanggung jawabkan kelak di akhirat. Hukuman qishas ini menghapuskan dosa yang dilakukan karena kegiatan mencuri yang dilakukan oleh pelaku tersebut. Subhanallah, Allah begitu baik kepada kita, namun kita sering kali tidak sadar akan begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan pada kita. 

nah selanjutnya, apa sih kaitannya dengan hukum buatan manusia? Manusia itu sudah pasti tempatnya melakukan kesalahan itu adalah hal yang lumrah, pun wajar saja ketika manusia yang membuat hukum akan terjadi ketidaksesuaian dalam penerapannya. contohnya banyaaaaaak banget yaaa. Kita lihat saja di negara kita ini, ketika hukum itu runcing ke bawah alias tajam ke rakyat, tapi tumpul ke atas, hukum nggak berlaku bagi petinggi-petinggi negara. Koruptor hukumannya cuma 3 tahun, nyuri ayam hukumannya lebih berat atau sekedar nyuri sendal hukumannya bertahun-tahun. See? Nggak ada keadilan sedikit pun. ditambah lagi kasus yang baru-baru ini sempat ramai di media mengenai jual beli kamar lapas. Para koruptor mendapatkan fasilitas mewah dengan membayar sejumlah uang, pantas saja yaa kalau lihat koruptor di televisi mereka masih bisa tersenyum bahkan melambaikan tangan bak artis yang sedang disorot, padahal kan mereka disorot karena mencuri!!!?? Dimana letak rasa bersalah dan malu mereka? 

Aku jadi teringat pembahasan di kuliah etika bisnis tadi, dimana hukum yang diciptakan seringkali mengalami ketidaksesuai dengan kasus, tidak adanya hukum yang jelas mengatur, dan ketidaksempurnaan yang lainnya. Jika kita terus menggunakan hukum seperti ini sampai kapanpun tidak akan tercipta ketenangan dan kedamaian di masyarakat.

Yaps, sekian dulu tulisan hari ini. Kritik dan saran sangat aku nantikan, yuk diskusi, biar permasalahan yang ada bisa diselesaikan dengan konkrit dan menghasilkan penyelesaian.

Selamat malam, 
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Semarang, 23 Agustus 2018/12 Dzulhijjah 1439

Selasa, 21 Agustus 2018

Islam adalah Sebuah Ideologi - Hari Kedua | Tantangan 30 Hari Menulis

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Pagi. Alhamdulillah Allah masih memberikan nikmat hidup, nikmat islam, dan nikmat iman pada diri kita.Hari ini aku mau membahas sedikit mengenai Islam sebagai sebuah ideologi.


Mengapa islam sebagai ideologi? Yang aku tahu islam itu agama. Dulu itulah yang aku pikirkan sebelum ngaji. Malah baru denger bahwa islam itu adalah ideologi ketika mulai mengaji. Yaps. Dan setelah mengaji aku pun memahami bahwa islam tidak hanya sekedar agama, islam adalah pandangan hidup. Ketika kita sudah beragama islam, meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, maka sejak saat itulah kita terikat dengan segala aturan yang telah Allah tetapkan untuk kita. Kita tidak hanya diwajibkan untuk melaksanakan amal ibadah seperti sholat, puasa, sedekah, dll, namun juga harus menerapkan aturan islam dalam setiap sendi kehidupan kita. 

Hal yang aneh ketika seseorang mengaku beragama Islam tetapi masih berpacaran, padahal jelas dalam al-Qur'an bahwa mendekati zina itu berdosa, tapi masih banyak muslim yang melakukannya. Hal yang sama terjadi ketika Allah telah memerintahkan muslimah untuk menutup auratnya dengan sempurna, namun sampai hari ini masih banyak yang enggan menerapkannya dengan alasan belum siap, dan sejuta alasan lainnya. Padahal seharusnya ketika kita sudah mendengar perintah yang Allah turunkan, saat itu juga kita harus menaati dan melaksanakannya.

Begitulah ketika banyak dari kaum muslim hanya memilih sesuatu yang bagi mereka menguntungkan saja. padahal islam bukan hidangan prasmanan, yang bisa dipilih sesuka hati. ada aturan yang semuanya harus dijalani. Namun hal ini akan sulit terwujud jika pemimpin dalam sebuah negara tidak menerapkan islam sebagai ideologi dalam menjalankan kepemimpinannya. Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan contoh untuk kita terapkan. 

Lantas apa yang harus kita lakukan? Teruslah mengaji, teruslah belajar dengan orang-orang shalihah (bagi yang akhwat/muslimah). Banyak membaca mengenai sejarah peradaban Islam dari sumber-sumber yang terpercaya dan dari penulis yang terjamin kredibilitasnya. Nggak cukup sampai disitu, kita harus mendakwahkan ilmu yang telah kita dapatkan, memberi tahu saudara kita sesama muslim akan indahnya sebuah peradaban ketika syariat Islam dijadikan sebuah landasan dalam bernegara dalam setiap sendi kehidupan. 

wallahu'alam bi shawwab.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Semarang, 22 Agustus 2018/ 11 Dzulhijjah 1439 H 

Hari Pertama | Tantangan 30 Hari Menulis

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sore! Hari ini aku akan mulai tantangan 30 hari menulis. terinpirasi dari sebuah kelas menulis online via whatsapp. aku sudah sering ikut kelas menulis online dan belum berhasil untuk mengikuti setiap challenge yang diberikan di kelas online tersebut. Hal inilah yang membuatku menarik kesimpulan bahwa bukan orang lain yang membuat diri ini berkembang melainkan diri kita sendiri. Ini pendapat pribadi yang aku tujukan untuk diriku sendiri ya. Jadi silahkan saja mengikuti kelas online jika kamu merasa kemampuanmu meningkat dengan mengikuti kegiatan tersebut. selain itu alasan lainnya aku memulai tantangan ini sendirian, adalah karena untuk mengikuti kelas online ini ada biaya yang harus dikeluarkan. aku yang notabenenya berstatus mahasiswa, lebih memilih untuk menahan biaya yang harus dikeluarkan untuk keperluan lain yang benar-benar mendesak, semoga selalu seperti itu hehe.

Hari pertama ini aku mulai dengan cerita perjalananku dalam waktu 6 hari dari Semarang-Bekasi-Bogor-Bekasi-Semarang. Seru banget. Akhirnya bisa kembali merasakan perjalanan menggunakan kereta api dan untuk pertama kalinya aku nggak tidur selama perjalanan yang memakan waktu sekitar 6 jam. Aku mengisi perjalanan kali ini dengan mengaji, membaca novel, dan menonton film yang disediakan pihak kereta api. Aku juga mengobrol dengan saudaraku dan makan bersama-bersama. Kebetulan, aku baru tahu bahwa hari itu di bekasi sedang diselenggarakan pertandingan sepak bola Asian Games antara Indonesia dan Palestina dengan skor akhir 1-2. Alhasil begitu tiba, keadaan stasiun sangat ramai dengan banyaknya suporter yang hendak pulang ke kotanya masing-masing. Bagiku naik kereta api dan menginjakkan kaki di stasiun adalah saat-saat yang menyenangkan, maklum aku baru bisa merasakannya ketika berumur 18 tahun saat aku mulai bersekolah di jawa. Pernah sih beberapa kali sewaktu masih smp tapi kan itu sudah lama banget. kenapa jarang banget naik kereta? Karena dari kecil aku tinggal di pulau yang nggak ada jalur kereta apinya.

 Puncak dari acara jalan-jalanku kali ini adalah menghadiri acara akad dan resepsi pernikahan sepupuku yang diadakan di kota Bogor. For the first time in my life, aku melihat langsung proses akad nikah. Mengharu biru. Sepupuku selaku mempelai pria mempersembahkan bacaan Ar-Rahman. Namun ternyata hafalan Ar-Rahman itu nggak bisa dijadikan mahar yaa. Aku baru tahu. Nanti deh cari lagi informasi terkait hal ini. 

beberapa hal yang ingin aku garis bawahi setelah menyaksikan proses akad nikah dan resepsi pernikahan, sebaiknya:

1. Harusnya tamu undangan itu terpisah tidak campur baur antara pria dan wanita.
2. Mempelai wanita terpisah dengan mempelai pria sampai ijab kabul selesai dilakukan.
3. Mempelai wanita harus tetap menggunakan pakaian sesuai yang diatur dalam syariat islam, tidak tabarruj, ataupun berlebihan.

Intinya pernikahan yang dilakukan karena Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah seharusnya sesuai dengan syariat islam, tidak melanggar aturan-aturan yang telah Allah tetapkan.

Alhamdulillah, Allah berikan kesempatan untuk melihat akad nikah, jadi aku punya bayangan seperti apa sih pernikahan yang seharusnya sesuai syariat Islam. 

terimakasih sudah membaca, sampai ketemu di tulisan-tulisan selanjutnya.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Semarang, 21-22 Agustus 2018








Kamis, 07 Juni 2018

Pertama kali I’tikaf di Masjid dari Setelah Terawih – Subuh




Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Sahabatku dimanapun kalian berada, apa kabar? Semoga selalu dalam lindungan Allah subhanahu wa ta’ala. Aamiin Allahumma Aamiin.

                Kali ini, sesuai judul tulisan di atas, aku akan berbagi pengalamanku merasakan I’tikaf di masjid dari sekitar jam 9 malam sampai subuh. Karena sebelum-sebelumnya, aku baru I’tikaf itu berangkat dari rumah sekitar jam 2 malam, dan menjelang waktu imsak, pulang ke rumah untuk melaksanakan sahur. Alhamdulillah, tahun ini bisa merasakannya. Dan semoga bisa rutin tiap tahunnya. Aamiin Ya Rabbal Aalamiin.

                Tentunya buat shalihah yang mau i’tikaf di masjid harus izin orang tua yaa dan jangan sendirian. Pastikan juga masjid yang akan menjadi tempat I’tikaf menyediakan tempat khusus bagi muslimah. Biasanya masjid yang menyediakan i’tikaf juga menyediakan santap sahur gratis. Alhamdulillah untuk para jamaah yang ingin khusyuk beribadah, mereka tidak perlu repot-repot untuk menyiapkan santap sahur mereka sendiri. Sebagaimana orang i’tikaf di masjid. Para jamaah ber-taqqarub (mendekatkan diri) kepada Allah subhahu wa ta’ala dengan membaca al-qur’an, berdzikir, berdoa, mengerjakan sholat sunnah, dan amalan-amalan lainnya. masyaAllah, lingkungan yang sangat mendukung sekali untuk mendekatkan diri kepada Sang Khaliq. Buat yang belum pernah, yuk dicoba, insyaAllah ketagihan. Kita harus mengupayakan semua hal yang bisa kita lakukan untuk semakin mendekat pada yang  Maha Penyayang bukan? Hanya 10  hari terakhir di bulan Ramadan, meluangkan 10 hari dari 365 hari yang ada. Harusnya bukan sesuatu hal yang berat bukan? Ditambah lagi pahala dan kebaikan-kebaikan yang insyaAllah akan kita dapatkan.

Mari berlomba-lomba dalam kebaikan. Mari sebarkan nikmat iman kepada saudari-saudari kita. Allahu Akbar!

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

7 Juni 2018 / 22 Ramadan 1439 H

2024 will be Great! InsyaAllah

 assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh  hello bloggers! how are you today? Alhamdulillah i am fine, i pray you always healthy and God...